KISAH TELADAN

TRAFFIC LIGHT

Dari kejauhan, lampu lau lintas diperempatan itu masih menyala hijau. Ferdi segera menekan pedal gas kendaraanya. Ia tidak mau terlambat, apalagi perempatan disitu cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan, jalan didepannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati Ferdi berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Ferdi bimbang, harusnya ia berhenti atau terus saja.

“Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambi terus melaju.

Priiiiittt!

Diseberng jalan, seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Ferdi menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion, ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu kan Arman, teman mainnya semasa SMA dulu! Hati Ferdi agak lega. Ia melompat keluar sampai membuka kedua lengannya.

“Hai Arman, Senang sekali bertemu kamu lagi!”

“Hai, ferdi,” Balas Arman tanpa senyum.

“Duh, sepertinya aku kena tilang nih?Aku memang agak buru buru. Istriku sedang menunggu dirumah.”

“Oh ya?” tampaknya Arman agak ragu.

Nah, bagus kalau begitu. “Arman, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak anak sudah menyiapkan segala sesuatuya. Tentu aku tidak boleh terlambat dong.”

“Aku mengerti. Tapi, sebenarnya aku sering memperhatikan kamu melintas lampu merah di persimpangan ini.”

“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tak melewati  lampu merah. Sewaktu aku lewat, lampu kuning masih menyala.” Aha terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

“Ayo dong, Ferdi. Aku melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.”

Dengan ketus, Ferdi menyerahkan SIM lalu masuk dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara itu, Arman menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian, Arman mengetuk kaca jendela. Ferdi memandangi wajah Arman dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima senti sudah cukup untuk memasukkan surat tilang . tanpa berkata-kata Arman kembali ke posnya.

Ferdi mengambil surat tilang yang diselipkan Arman disela-sela kaca jendela. Tapi, hai apa ini?. Ternyata, SIM nya dikembalikan bersama sebuah nota, “Kenapa ia tidak menilangku?” Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa?

Buru-buru Ferdi  membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Arman.

Halo Ferdi! Tahukah kamu ? Aku dulu mempuyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama  3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sdh tiada. Kami  masih terus berusaha dan  berharap agar Tuhan berkenan mengarungi seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya, begitu juga kali ini. Maafkan aku Ferdi. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah!

Ferdi terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Arman. Namun, Arman sudah meninggalkan posnya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi, suka kita tidak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s